Tinta Media: Intoleran
Tampilkan postingan dengan label Intoleran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intoleran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2024

Akibat Salah Kaprah dalam Memaknai “Intoleran”


Tinta Media - Miris, kasus intoleransi di negara yang terkenal dengan beragam agama ini semakin banyak.
Tidak ada lagi ketentraman, rasa aman, dan damai. Banyak dari oknum pemeluk agama merasa fanatik dengan agamanya sendiri. Kurangnya pengetahuan tentang agama mengakibatkan kasus intoleransi tak dapat lagi dihindarkan.

Intoleran sendiri merupakan kata yang berlawanan dari toleransi yang berarti tidak saling menjaga dan berdamai dengan orang/agama lain. Namun sekarang, kerap kali orang-orang memaknai kata intoleransi sebagai sesuatu yang berlebihan. Dengan kata lain, itu sebenarnya tidak sesuai dikatakan sebagai intoleran. 

Misalnya, ada orang muslim yang tidak turut mengucapkan selamat Natal di tanggal 25 Desember kepada umat Kristiani. Hal tersebut sudah dipandang oleh masyarakat sebagai intoleran karena dianggap tidak mau menerima keyakinan dari agama lain. 

Lantas, apa sebenarnya makna yang benar dari kata intoleran itu sendiri?  Bisakah kita memaknai intoleran dengan definisi yang masih global/umum, yaitu sikap orang yang tidak mau meyakini dan menerima kayakinan dari agama lain?

Berdasarkan berita yang dilansir dari Barometer.co.id (26/09/24), Pelaksana harian (Plh) Direktur Eksekutif Wahid Foundation Siti Kholisoh menilai bahwa penolakan pendirian sekolah Kristen oleh sekelompok masyarakat muslim di Parepare, Sulawesi Selatan telah menciderai semangat toleransi yang terkandung dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Meski telah menyetujui dan memberikan izin pembangunan Sekolah Kristen Gomaliel, pemerintah daerah Kota Parepare, Sulawesi Selatan, melalui DPRD Parepare justru merekomendasikan penghentian pembangunan sekolah tersebut setelah mendapat penolakan dari sekelompok demonstran. Hal ini karena sekolah tersebut didirikan di tengah masyarakat berpenduduk mayoritas muslim. (Bbc.com 13/10/2023)

Banyak dari masyarakat yang harus dipahamkan mengenai intoleransi supaya masalah-masalah berkepanjangan ini segera berakhir dan ditemukan jalan keluar. Akan tetapi, tidak cukup hanya sekadar dipahamkan saja, pemerintah (negara) juga harus turun tangan dalam menyikapi hal tersebut. Jangan malah bungkam, keterlaluan!

Seperti yang sudah diklaim oleh Siti Kholisoh mengenai sikap intoleran yang dimiliki kaum muslimin yang menolak pendirian pembangunan sekolah Kristen di Parepare, Sulawesi Selatan. Ia menganggap bahwa semua orang berhak mendirikan sekolah selagi sudah memenuhi syarat yang ditentukan. Ia juga memberi solusi kepada orang-orang agar tidak memiliki sikap intoleran. Salah satunya dengan memelihara sikap pluralitas atau paham pluralism (menganggap semua agama adalah sama dan benar).

Padahal, sebagai umat Islam, semestinya kita mengetahui bahwa ini adalah paham yang batil. Sudah jelas tertera dalam firman-Nya, 
Ψ§Ω† Ψ§Ω„Ψ―ΩŠΩ† ΨΉΩ†Ψ― Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ§Ω„Ψ§Ψ³Ω„Ψ§Ω… “ 

"Sesungguhnya agama yang di sisi Allah hanyalah Islam”. 

Jika muslim memegang paham ini, maka ia tidak akan mencampuradukkan akidah-akidah (keyakinan-keyakinan) masing-masing agama yang ada. 

Seharusnya kita menjadikan akidah sebagai prinsip, yakni sebagai sesuatu yang pasti, tak dapat goyah, dan tak dapat tergantikan oleh yang lain. 

Masalah akidah bukan merupakan masalah furu’ (cabang) yang dapat berbeda-beda. Akidah yang kita yakini hanya ada satu dan itu bersifat pasti, tak boleh ada perbedaan di dalamnya. 

Maka, solusi yang diberikan oleh Siti Kholisoh ini tak dapat diterima akal. Hal ini sangat berkebalikan dengan akidah umat Islam yang mengajarkan bahwa kita harus tetap mempertahankan prinsip dan jangan sampai goyah. 

Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia memandang jika kita tak mau menerima keyakinan dari agama lain, maka kita termasuk intoleran. Seperti jika ada muslim yang tidak ikut merayakan natal, hari raya Nyepi, tahun baru Masehi, dan lain sebagainya. 

Maka, perlu kita pahamkan sekali lagi bahwa itu semua sudah masuk ke ranah akidah (keyakinan) dari suatu agama. Sebagai umat Islam, kita dilarang  turut campur. Hal ini karena mencampur perkara akidah antara suatu agama dengan agama lain adalah haram. Berarti, intoleran sendiri tidak dapat dimaknai seperti tadi. 

Yang dapat dikatakan intoleran menurut mereka adalah seperti ada sekelompok muslim yang akan melakukan pengeboman teradap jema’ah Kristen yang sedang beribadah di Gereja. Ini jelas-jelas tidak pernah diajarkan oleh Islam. 

Dalam Islam, jika ada umat agama lain yang sedang beribadah, cukup membiarkan saja tanpa perlu mengganggunya. Islam selalu menuntun pemeluknya agar memiliki pemikiran-pemikiran sahih, serta tidak menyeleweng. Selain itu, Islam juga memberi makna-makna secara jelas dan tidak rancu sehingga dapat memuaskan akal dan dapat menentramkan jiwa. 

Seperti yang terjadi pada masanya Rasul saw. Pada saat itu, daulah khilafah (sistem kepemerintahan dalam Islam) telah tegak. Namun, agama-agama pada masa itu selalu hidup berdampingan dan rukun. Tak ada yang namanya intoleran, tidak ada yang namanya permusuhan/saling membenci antara satu agama dengan agama lain. 

Selain itu, pemimpin Islam juga telah dijadikan sebagai ra’in (pelindung) dan junnah (perisai) sehingga pemikiran-pemikiran Islam dapat melekat sekaligus dapat diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. 

Maka, umat perlu dipahamkan tentang urgensi untuk mendirikan daulah Islam ‘ala minhaji nubuwwah. Dengan adanya peran masyarakat dan daulah, maka dapat terwujud sistem pemerintahan Islam (khilafah) yang dapat mewujudkan kerukunan. Tak hanya untuk umat yang beragama Islam saja, tapi juga untuk yang berbeda agama sekalipun. Wallaahu a’lam bi ash-shawwaab.


Oleh: Marsa Qolbina Nabiha
Sahabat Tinta Media


Kamis, 07 September 2023

KAMI: Isu Intoleran, Radikalisme, Terorisme Tertuju pada Islam


 
Tinta Media - Ketua Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Adhi Masardi menilai, isu intoleran, radikalisme, terorisme selalu ditujukan pada Islam.
 
“Isu intoleransi, radikalisme, dan terorisme, sejak Orde Baru, selalu tertuju pada Islam,” tuturnya dalam diskusi online : Isu Moderasi Diangkat di tengah Korupsi Meningkat dan Kedaulatan Disikat (Cina), Ahad (3/9/2023) di kanal YouTube Media Umat.
 
Isu-isu tersebut, menurutnya, disiapkan oleh Amerika untuk menguasai negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim yang kaya akan energi.
 
“Indonesia mempertahankan isu terorisme untuk menyerang Islam. Hal ini karena menguntungkan bagi kekuasaan. Demikian halnya, dengan kelompok-kelompok yang mengkritisi pemerintah, maka akan dituding macam-macam, dicari pasal-pasal menebar kebohongan, dan dituduh provokasi. Ini memang harga yang harus kita bayar untuk memberikan kesadaran politik kepada masyarakat,” pungkasnya. [] Ikhty

KH. Muhyidin: Umat Islam Selalu Dipojokkan dengan Tuduhan Aneh


 
Tinta Media - Wakil Ketua Umum Dewan Pertimbangan MUI Pusat, KH. Muhyidin Junaedi mengatakan, umat Islam selalu dipojokkan dengan tuduhan aneh.
 
“Kita selalu dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan aneh. Kalau sudah intoleran biasanya ditingkatkan ke radikal,” tuturnya dalam diskusi: Isu Moderasi Diangkat di Tengah Korupsi Meningkat dan Kedaulatan Disikat, di kanal Youtube Media Umat, Ahad (3/9/2023).
 
Ia prihatin, umat Islam di negeri ini walau pun mayoritas, sudah berbuat baik tapi tetap dipojokkan terus menerus. Ia juga mengingatkan agar umat Islam waspada ketika ada suatu acara, mengundang para pakar luar negeri.
 
“Orang yang diundang itu jangan-jangan sudah dibrifing dulu, ‘Anda bicara tema dan tujuan ini ya.’ Tapi kalau orang yang bebas, yang ngerti dan paham, expert, itu tidak ada dalam list,” sesalnya.
 
Yang diundang itu, jelasnya, adalah kelompok liberal, yang menjadikan akal sebagai penentu kebenaran.
 
“Rasulullah Saw. Mengingatkan, siapa saja yang menafsirkan Al-Qur’an, menafsirkan nash-nash di dalam agama Islam, hanya dengan menggunakan akalnya, dengan pendekatan human logic, maka Allah akan siapkan dia kursinya di neraka,” imbuhnya.
 
Oleh karena itu Kiai Muhyidin mengingatkan agar aktifis muslim selalu waspada jika diundang untuk mengikuti suatu acara.
 
“Seakan-akan tersanjung, ini acara konferensi internasional, tapi final statement dan final community nya sudah dia siapkan nanti arahnya ke sana,” pungkasnya. [] Nita Savitri.

Minggu, 03 September 2023

Grace Natalie Sebut Prabowo Menyesal Pernah Dekat dengan Kelompok Intoleran, IJM: Tendensius dan Sinistik



Tinta Media - Pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie yang menyebut Prabowo Subianto menyesal pernah dekat dengan kelompok “intoleran” dinilai tendensius dan sinistik. 
 
“Yang dimaksud kelompok intoleran itu mungkin Islam. Pernyataan demikian bersifat tendensius dan sinistik,” ujar Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana dalam video: Menyesal Pernah Dekat Kelompok ‘Intoleran’ melalui kanal Youtube Justice Monitor, Sabtu (2/9/2023).
 
Agung menyesalkan pernyataan yang manipulatif itu, karena  faktanya pada pilpres 2019 Prabowo mendapat dukungan suara  yang besar dari umat Islam.
 
Diperbudak Nafsu
 
Dalam pandangan Agung, saat ini banyak calon pejabat yang telah diperbudak nafsu jabatan dan kekuasaan.

“Mereka sering tak peduli halal haram, baik buruk, atau benar salah, tidak peduli jika harus mengorbankan idealisme, bahkan tidak peduli jika harus mengorbankan rakyat kebanyakan, yang penting jabatan dan kekuasaan ada dalam genggaman,” kritiknya.
 
Padahal, lanjutnya, hakikat kepemimpinan dalam Islam tercermin dari sabda Rasulullah Saw, dalam hadis riwayat Abu Nu’aim, pemimpin suatu kaum itu adalah pelayan kaum itu.
 
Ia menyebut hadis lain yang penting untuk dicermati. “Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk memelihara urusan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasehat atau kebaikan, kecuali ia tidak akan mencium bau surga,” ucapnya menukil hadis riwayat Bukhari.
 
Ia juga menukil hadis yang sangat penting untuk penguasa. “Tidaklah seorang penguasa diserahi  urusan kaum muslim kemudian ia mati sedangkan ia menelantarkan urusan mereka kecuali Allah akan mengharamkan surga untuk dirinya,” imbuhnya.
 
Kezaliman
 
Agung mengingatkan, dalam Islam siapa pun yang berkuasa, jika tidak menerapkan Islam maka itu merupakan kezaliman. Karena tujuan politik dalam Islam adalah mengatur kehidupan dengan aturan Islam.
 
“Tujuan politik Islam bukan sekedar menjadikan si Fulan berkuasa tetapi menjadikan hukum Allah diterapkan, sehingga kehidupan penuh dengan keberkahan,” tambahnya.
 
Jadi, sambungnya, pemimpin itu pelayan, pemimpin itu harus benar-benar serius mengatur umat. “Ironisnya ada banyak orang amat bernafsu atas kekuasaan dan jabatan. Mereka seolah tidak peduli jabatan dan kekuasaan itu akan berubah menjadi penyesalan dan kerugian bagi mereka pada hari kiamat kelak,” pungkasnya. [] Irianti Aminatun

Minggu, 25 Desember 2022

πƒπ€πŠπ–π€π‡ πƒπˆπ…πˆπ“ππ€π‡ πˆππ“πŽπ‹π„π‘π€π, 𝐂𝐍𝐍 πˆππƒπŽππ„π’πˆπ€ π‹π€πŠπ”πŠπ€π ππ„ππ†π‡π€πŠπˆπŒπ€π

Tinta Media - Dari judulnya saja, terlihat jelas CNN Indonesia sudah melakukan penghakiman (π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘Žπ‘™ 𝑏𝑦 π‘‘β„Žπ‘’ π‘π‘Ÿπ‘’π‘ π‘ ) terhadap sekelompok umat Islam yang tengah mendakwahi umat Islam lainnya di pinggir jalan yang mayoritas berpenduduk Muslim, dengan menyebut: π‘ƒπ‘œπ‘™π‘–π‘ π‘– π΅π‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘› πΎπ‘’π‘™π‘œπ‘šπ‘π‘œπ‘˜ π΅π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘› π‘†π‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘’π‘˜ πΌπ‘›π‘‘π‘œπ‘™π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘†π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘Žπ‘¦π‘Ž. Bandingkan dengan Kumparan yang memberikan judul cukup objektif: π‘ƒπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘†π‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘’π‘˜ 'π΄π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘‘ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™ π»π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘š π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘ˆπ‘šπ‘Žπ‘‘ πΌπ‘ π‘™π‘Žπ‘š' π·π‘–π‘π‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘›.

Hei! Siapa sebenarnya yang intoleran!? Orang Islam mendakwahi sesama Muslim di ruang publik dengan membentangkan spanduk πΉπ‘Žπ‘‘π‘€π‘Ž π‘€π‘ˆπΌ π‘π‘œπ‘šπ‘œπ‘Ÿ 56 π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2016. π΄π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘‘ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™ π»π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘š π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘ˆπ‘šπ‘Žπ‘‘ πΌπ‘ π‘™π‘Žπ‘š. π‘‡π‘œπ‘™π‘Žπ‘˜ π΄π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘‘ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ πΎπ‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Žπ‘€π‘Žπ‘› π‘€π‘’π‘ π‘™π‘–π‘š di pinggir jalan di sebuah kota yang berpenduduk mayoritas Muslim itu namanya dakwah, bukan intoleran. 

Kalau ada karyawan Muslim mengenakan atribut natal, itu bukan toleransi tetapi partisipasi. Toleransi itu membiarkan orang Kristen natalan, tetapi bila Muslim turut mengenakan atribut natal itu bukan toleransi melainkan partisipasi. Islam mewajibkan toleransi sekaligus mengharamkan partisipasi. 

Namun kaum islamofobia tidak mau definisi toleransi dan partisipasi dalam pandangan Islam itu. Mereka memaksa karyawan Muslim untuk mengenakan atribut natal. Bila tidak mau, maka Muslim tersebut dicap intoleran. Jelas, ini adalah salah kaprah, sesat dan menyesatkan. 

Disadari atau tidak, penulisan judul dengan penghakiman terhadap dakwah Islam tersebut merupakan bagian dari desain besar (π‘”π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘‘ π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘’π‘”π‘¦) kaum islamofobia yang menginginkan pendangkalan akidah kaum Muslim ---bila tidak memungkinkan untuk memurtadkannya. Atau paling tidak, penulis judul tidak memahami apa makna toleransi maupun intoleransi dalam pandangan Islam, makanya jangan latah! 

Muslim yang sedang berdakwah untuk menyelamatkan akidah sesama Muslim dari pendangkalan akidah harusnya dibela. Alih-alih dibela tetapi malah disalahkan dengan memberi diksi judul penghakiman. Jelas, itu merupakan judul yang sesat dan menyesatkan. Terlepas menulis judul demikian dengan sadar atau sekadar latah, kaum islamofobia pasti bangga kepada Anda!

Tapi satu hal yang tidak boleh Anda lupakan, berhati-hatilah dalam menulis judul maupun isi berita, apalagi Anda seorang jurnalis Muslim. Karena semua berkonsekuensi pahala dan dosa (bahkan jariah/terus mengalir) yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Surga nerakanya kelak di Akhirat, tergantung berita yang Anda tulis di Dunia ini. Campkan itu![]

Depok, 1 Dzumadil Akhir 1444 H | 25 Desember 2022 M

Oleh: Joko Prasetyo 
Jurnalis
Follow IG@tintamedia.web.id

Opini Tokoh

Parenting

Tsaqofah

Hukum

Motivasi

Opini Anda

Tanya Jawab