Rusaknya Mental dan Moral Remaja di Sistem Kapitalisme - Tinta Media

Minggu, 03 Maret 2024

Rusaknya Mental dan Moral Remaja di Sistem Kapitalisme


Tinta Media - Pemuda hari ini banyak yang terkena penyakit mental illness. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) dalam survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja 10 – 17 tahun di Indonesia menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. ( UGM.CO 24/10/2022)

Ini tentunya tidak terjadi tanpa sebab. Ini semua berasal dari kesalahan pendidikan di Indonesia. Kita tahu bahwa pendidikan di Indonesia hanya berdasar pada transfer ilmu saja dan hanya terbatas pada nilai semata, sehingga menjadikan remaja hanya kuat dalam teori keilmuan, tetapi lemah dalam mental dan adab. Belum lagi hukum di negeri ini yang seakan menjadikan murid lebih berkuasa daripada guru .

Kita bisa lihat bahwa kehidupan remaja saat ini begitu rusak.  Adab remaja saat ini membuat kita merasa miris. Mereka  berani melawan dan membentak guru, tidak mau disalahkan atas  kesalahannya, bahkan jika guru melawan dengan fisik yang terukur, maka guru seakan bersalah dengan dilaporkan ke polisi. Tidak sedikit dari guru yang sudah tertangkap hanya karena masalah tersebut. Ini kan aneh? 

Guru yang memberikan pendidikan dan arahan yang benar dengan mengingatkan dan melakukan amar makruf nahi mungkar justru disalahkan. Bagaimana Remaja di negeri ini bisa menjadi penerus bangsa yang hebat, penerus yang layak mengemban amanah dakwah terhadap negeri ini, jika adab mereka rusak dan mental mereka lemah?

Oleh karena itulah dibutuhkan sistem pendidikan yang benar, yang bisa mencetak pemimpin hebat selayak Muhammad al-Fatih. Beliau dibina dengan pendidikan yang benar dengan tsaqafah dan keimanan yang kuat, sehingga menjadikannya bukti bisyarah Rasulullah saw. 

Beliau dibina dengan fisik dan mental yang kuat. Bahkan, beliau sering dipukul dengan rotan saat menempuh pendidikan. Belum lagi transfer karakter yang dilakukan oleh gurunya, Syekh Aaq Syamsudin dan Ahmad Al Qurani yang menjadikannya pemimpin berkarakter Rasulullah saw.

Inilah yang menjadikan Muhammad al-Fatih sebagai pemimpin hebat sepanjang masa. Ia menaklukkan konstantinopel di usia 21 tahun dan pandai dalam 7 bahasa sekaligus di usia 17 tahun. 

Pendidikan seperti ini tentunya tidak bisa dilakukan dalam sistem demokrasi sekuler seperti sekarang. Pendidikan yang dibutuhkan saat ini adalah pendidikan dengan sistem Islam yang mendidik remaja untuk menjadi pemimpin masa depan.
Ketika meneliti sejarah, kita bisa menyaksikan bahwa semua itu telah terbukti secara nyata. Islam menjadi pusat peradaban ilmu yang besar. Peradaban Islam menghasilkan ilmuwan-ilmuwan muslim terkenal yang hingga saat ini karya mereka tetap abadi. menjadi awal perkembangan pendidikan ketika Barat masih dalam Dark Age. 

Tentunya, sistem pendidikan ini tidak akan bisa terwujud tanpa sebuah institusi yang menerapkan Islam secara sempurna, yaitu sistem khilafah yang menaungi seluruh umat yang ada di negeri ini. Sistem inilah yang akan menerapkan aturan terbaik dari Sang Pencipta Yang Maha Baik. Oleh karena itu, inilah waktunya untuk umat bersatu (it is time to be one ummah), beralih ke sistem yang berdasar pada Al-Qur'an dan Sunnah.



Oleh: Azzaky Ali Amrullah
Santri Kelas X Ponpes Al Amri
Rekomendasi Untuk Anda × +

Bagikan artikel ini

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.

Artikel Menarik Lainnya :