Piri Reis, Salah Satu Generasi Hasil Didikan Khilafah - Tinta Media

Minggu, 28 Agustus 2022

Piri Reis, Salah Satu Generasi Hasil Didikan Khilafah

Tinta Media - Narator MMC mengatakan bahwa Piri Reis adalah salah satu generasi hasil didikan khilafah.
 
“Piri Reis adalah salah satu dari sekian banyak generasi hasil didikan khilafah. Minatnya dalam bidang maritim diarahkan untuk berjihad di lautan mencari daratan yang belum terjamah Islam,” tuturnya di History Insight: Piri Reis dan Kitab-i-Bahriye: Ikonik Bahari Kekhilafahan Turki Utsmani, Rabu (24/8/2022) melalui kanal Youtube Muslimah Media Center.
 
Piri Reis, lanjut Narator,  hidup antara tahun 877 - 961 Hijriyah atau 1465 - 1554 Masehi. Nama lengkapnya adalah Hadji Muhidin Piri Ibnu Hadji Mehmed. Dia lahir di Gallipoli daerah pantai Aegea Turki.
 
“Reis  (laksamana) adalah gelar yang didapat oleh Piri. Sebelum mendapatkan gelar Reis  Piri kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga remaja bersama pamannya Kemal Reis , seorang pelaut terkemuka di masa kekhalifahan Turki Utsmani. Sang  paman lah yang mendorong Piri  mencintai laut, pelayaran, dan kartografi (ilmu pembuatan peta),” terangnya.
 
Sebelum menjadi laksamana, ahli geografi dan kartografer Utsmaniyah Turki yang terkenal, kisah Narator, Piri Reis telah memulai karir maritimnya menjelang  akhir abad ke-15 di bawah komando pamannya Kemal Reis seorang pelaut terkenal saat itu.
 
 “Dia bertempur di banyak pertempuran laut bersama pamannya dan kemudian juga bertugas di bawah Khahairdin Barbarossa. Dia  berpartisipasi dalam pertempuran bertahun-tahun melawan angkatan laut Spanyol , Genoa dan Venesia , termasuk pertempuran Lepanto pertama (pertempuran Zonchio)  pada tahun 1499 dan pertempuran Lepanto kedua (pertempuran Modon)n pada tahun 1500. Akhirnya dia memimpin pertempuran armada Ottoman melawan Portugis di laut Merah dan Samudra Hindia,” kisahnya.
 
Disela-sela aksi militer dan setelah kematian pamannya Kemal Reis  pada 1511, lanjut  Narator,  Piri Reis kembali ke Gallipoli untuk merancang peta dunia pertama pada tahun 1513.Ia kemudian menyusus dua versi bukunya Kitab-i Bahriye pada  tahun 1521 dan 1525. Setelah itu ia merancang dan menggambar peta dunia keduanya pada tahun 1528 hingga 1529.
 
“Untuk Kitab- i- Bahriye (buku tentang lautan)  yang ditulis pada 1521, kitab itu memuat sebanyak 132 peta yang menggambarkan dengan presisi kota-kota pelabuhan dunia. Piri  Reis mampu menjelaskan begitu rinci pantai-pantai yang ada di sekujur laut Mediterania termasuk Aljazair, Mesir, Tunisia, Prancis, Italia, Venesia, dan Triste,” bangganya.  
 
Tak hanya peta, tegas Narator, Kitab -i- Bahriye  versi pertama ini juga memuat berbagai uraian navigasi yang dijelaskannya dengan begitu detail serta bagaimana cara mengarungi lautan lepas.
 
“Kitab ini juga memuat informasi  tentang jenis badai, teknik menggunakan kompas, 132 bagan portolan dengan informasi rinci tentang  pelabuhan dan garis pantai, metode menemukan arah menggunakan bintang, karakteristik lautan utama dan daratan di sekitarnya,” bebernya.
 
Sedangkan Kitab -i - Bahriye yang diluncurkan  pada tahun 1525 hingga 1526, lanjut Narator,  memuat 210 bagan portolan.
 
“Kitab kedua dimulai dari diskripsi Selat Dardanelles  dan berlanjut dengan pulau-pulau dan  garis pantai Laut Aegea, Laut Lonia, Laut Adriatik, Laut Tyrrhenian, Laut Liguria, French Riviera, Kepulauan Balearic, Pantai Spanyol , Selat Gibraltar,  kepulauan Canary, Pantai Afrika Utara, Mesir dan sungai Nil, Levant dan garis pantai anatolia,” ungkapnya.
 
Bagian ini juga, imbuh  Narator,  mencakup deskripsi dan gambar monumen dan bangunan terkenal di setiap kota.
 
“Pada masanya Kitab- i- Bahriye  adalah salah satu sumbangsih terbesar di jagat kartografi . Buku ini merupakan petunjuk manual yang sangat berguna sebagai panduan ekspedisi bahari pada masa itu,” tandasnya.
 
 Adapun detail  salah satu contoh kekayaan informasi dalam masterpiece Kitab- i – Bahriye, jelasnya,  adalah bagaimana Piri Reis  mampu menjelaskan petunjuk tentang pesisir Mediterania,  laut yang menghubungkan tiga benua sekaligus yaitu Asia, Afrika  dan Eropa. Selain itu buku ini juga menampilkan profil kota-kota di wilayah pesisir Asia atau Afrika yang dikuasai Islam.
 
“Piri Reis  juga mampu menggambarkan pantai-pantai di Prancis dan melengkapi uraiannya dengan 4 peta khusus,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun
Rekomendasi Untuk Anda × +

Bagikan artikel ini

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.

Artikel Menarik Lainnya :