Tinta Media - Tanggapi fenomena mudik, Direktur Institut Muslimah Negarawan (ImuNe) Dr. Fika Komara menyampaikan bahwa sebagai kaum muslimin harus meningkatkan kepekaan terhadap fenomena dan problematika yang mengelilingi umat Islam.
"Sebagai kaum muslimin, sebagai aktivis dakwah, sebagai orang-orang yang memiliki concern besar terhadap cita-cita dan masa depan peradaban Islam, kita pun harus meningkatkan salah satunya kepekaan terhadap fenomena yang baru saja terjadi dan kita semua jalani, yaitu mudik dan arus balik," tuturnya dalam program acara Muslimah Negarawan, yang bertajuk Renungan Syawal: Lebaran, Konsumerisme, dab Urbanisasi, Senin (16/5/2022), di Kanal Youtube Peradaban Islam ID.
Menurutnya, fenomena mudik dan arus balik itu luar biasa, karena meskipun bukan hal yang viral, dan menjadi topik perbincangan politik, namun ini adalah fenomena yang sebenarnya sistemik, memiliki dimensi pembahasan yang sangat strategis.
Ia menilai, adanya fenomena mudik ini, bahwa arus urbanisasi ini, menandakan masih adanya kesenjangan pembangunan desa dan kota.
Ia mencontohkan adanya gap yang cukup besar dari sisi kesejahteraan antara masyarakat di desa dengan di kota.
"Karena ini bukan fenomena yang terjadi case by case, ya, satu orang dua orang yang mudik. Tapi kan yang mudik itu jutaan dari pusat dan kota-kota besar. Pusat-pusat pertumbuhan kepada daerah-daerah di Kabupaten, di desa, daerah-daerah pinggiran, di Jawa, luar Jawa," ujarnya.
Menurutnya, ini sebenarnya juga tidak bisa kita lepaskan dari pola pembangunan kapitalistik yang menimpa umat Islam. "(Pola pembangunan) yang memang menciptakan kesenjangan pembangunan antara center and peripheral (pusat-pusat pembangunan dengan pinggiran dan daerah-daerah pinggiran)," pungkasnya.
[] 'Aziimatul Azka
"Sebagai kaum muslimin, sebagai aktivis dakwah, sebagai orang-orang yang memiliki concern besar terhadap cita-cita dan masa depan peradaban Islam, kita pun harus meningkatkan salah satunya kepekaan terhadap fenomena yang baru saja terjadi dan kita semua jalani, yaitu mudik dan arus balik," tuturnya dalam program acara Muslimah Negarawan, yang bertajuk Renungan Syawal: Lebaran, Konsumerisme, dab Urbanisasi, Senin (16/5/2022), di Kanal Youtube Peradaban Islam ID.
Menurutnya, fenomena mudik dan arus balik itu luar biasa, karena meskipun bukan hal yang viral, dan menjadi topik perbincangan politik, namun ini adalah fenomena yang sebenarnya sistemik, memiliki dimensi pembahasan yang sangat strategis.
Ia menilai, adanya fenomena mudik ini, bahwa arus urbanisasi ini, menandakan masih adanya kesenjangan pembangunan desa dan kota.
Ia mencontohkan adanya gap yang cukup besar dari sisi kesejahteraan antara masyarakat di desa dengan di kota.
"Karena ini bukan fenomena yang terjadi case by case, ya, satu orang dua orang yang mudik. Tapi kan yang mudik itu jutaan dari pusat dan kota-kota besar. Pusat-pusat pertumbuhan kepada daerah-daerah di Kabupaten, di desa, daerah-daerah pinggiran, di Jawa, luar Jawa," ujarnya.
Menurutnya, ini sebenarnya juga tidak bisa kita lepaskan dari pola pembangunan kapitalistik yang menimpa umat Islam. "(Pola pembangunan) yang memang menciptakan kesenjangan pembangunan antara center and peripheral (pusat-pusat pembangunan dengan pinggiran dan daerah-daerah pinggiran)," pungkasnya.
[] 'Aziimatul Azka